AYO SIAGA BENCANA!. Mengenal Rantai Penularan, Gejala dan Pencegahan Penyakit.!



Mengenal BENCANA.! Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar istilah bencana. Apa sih bencana itu.? BENCANA merupakan kejadian luar biasa yang disebabkan oleh faktor alam ataupun sebagai akibat ulah manusia yang menimbulkan korban jiwa, kerugian material dan kerusakan ingkungan. 

Bencana timbul ketika kita tidak dapat mengatasi ancaman. Sangat penting bagi kita untuk dapat mengurangi risiko bencana ANtaranya:

  • Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang membantu dampak buruk bencana dapat dihindari atau dikurangi.!
  • Mengetahui Tanda-Tanda Bencana. Pencegahan Penyakit dengan menjaga kesehatan diri lingkungan serta Faktor Resiko Rantai Penularan.
Indonesia Negeri yang rawan bencana. bermacam-macam bencana terjadi di negeri ini, jenis-jenis dan ciri-ciri bencana di suatu daerah belum tentu sama engan daerah lainya. Hidup dengan bencana membantu kita meningkatkanketerampilan dan kemampuan kita. 



Maka Pastikan diri dan keluargamu terhindar dari RESIKO BENCANA, Bagaimana caranya..?
Mari Memulainya dengan mengenal Apa itu Bencana, Berdasarkan waktunya bencana dikelompokan sebagai berikut.

  1. Bencana yang terjadi secara tiba-tiba, misalnya gempa bumi, tsunami, angin topan/badai, letusan gunung api, banjir bandang dan tanah longsor. Beberapa bencana memberikan tanda-tanda sehingga kita bisa menyelamatan diri, tetapi ada yang sulit untuk dibaca bahkan oleh perangkat teknologi canggih. 
  2. Bencana yang terjadi secara perlahan, biasanya disertai munculnya tanda-tanda sehingga ta bisa melakukan tindakan-tindakan untuk mencegah timbulnya banyak korban, misalnya banjir, kekeringan dll. 

Sedangkan Berdasarkan Penyebabnya.? Bencana dikelompokan Menjadi.
  • Bencana yang disebabkan gejala alam. Pergeseran lapisan bumi menimbulkan ancaman gempa bumi dan tsunami, letusan gunung api menimbulkan ancamen gempa vulkanik, letusan, semburan awan panas, hujan abu dll. perubahan menimbulkan perubahan pola musim dan angin topan; sedangkan kemara bisa menimbulkan kebakaran hutan.
  • Bencana yang disebabkan oleh manusia. Bencana yang disebabkan manusia, risalnya yang berhubungan dengan lingkungan seperti penebangan hutan yang mengakibatkan erosi, kelalaian seperti kebocoran reaktor nuklir, kebakaran kilang minyak dll. pertentangan antar manusia (konflik atau perang) juga dapat menyebabkan bencana.


BENCANA WABAH | PENYAKIT MENULAR.! RANTAI-RANTAI PENULARAN, GEJALA DAN PENCEGAHAN PENYAKIT.? 



BENCANA Dapat mengalami Beberapa Masalah yang ditimpulkan Baik Psikologis dan Beberapa Penyakit Menular Antaranya.? cacar air, flu, atau tetanus? Berikut informasi yang Mommy butuhkan untuk mencegah penularannya dan mengobatinya hingga tuntas.

DEMAM TYPHOID - TYPES | Gejala, Penyebab, Penularan, Vaksin dan Pengobatan

  • Demam Typhoid yang dikenal dengan nama penyakit tifus/tifes adalah suatu penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari 1minggu yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi. Selain oleh Salmonella typhi, demam typhoid juga bisa disebabkan oleh Salmonella paratyphi namun gejalanya jauh lebih ringan.  Kuman ini umumnya terdapat dalam air atau makanan yang  ditularkan oleh orang yang terinfeksi kuman tersebut sebelumnya. 
  • Penyakit ini yang disebabkan oleh makanan/food borne disease, transmisi/jalur penularan penyakit ini juga melalui faecal-oral. Juga ditemukan pada daerah-daerah dengan sanitasi dan penyediaan air bersih masih buruk karena kontaminasi bakteri dari dalam perut. Biasanya menyerang  anak-anak sampai dewasa antara 5-25 tahun.

  • Gejala dan Tanda Pada awal gejala yang timbul dapat berupa : anoreksia, rasa malas, sakit kepala bagian depan, nyeri otot, lidah kotor, gangguan perut (perut meragam dan sakit).
  • Gejala khas demam typhoid dapat berupa : demam terutama pada sore dan malam hari. · Gangguan pencernaan (mual muntah diare atau sembelit). lidah kotor. Mulut pahit
  • Pencegahan dan Penanganan Pencegahan: 
  1. Menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan 
  2. Kebiasan cuci tangan memakai sabun dengan air yang  mengalir setelah dan ssebelum makan. 
  3. Menjaga kebersihan makanan ( mencuci bahan makanan, memasak dengan sempurna dan menutupi makanan dengan tudung saji) 
  4. Memakan makanan dan minuman yang bersih dan sehat  BAB ditempat yang benar 
  • Penanganan: 
  • Tirah baring 
  • Beri paracetamol untuk menurunkan demam 
  • Minum air yang banyak atau caitran elektrolit  Berikan makanan yang lunak atau lembek · Segera rujuk ke fasilitas kesehatan terdekat apabila keluhan tidak berkurang

Hepatitis A | Gejala, Penyebab, Penularan, Vaksin dan Pengobatan




Hepatitis merupakan suatu kondisi peradangan pada hati yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti bakteri, virus, obat-obatan, atau alkohol.

Terdapat beberapa virus yang bisa menyebabkan hepatitis, salah satunya adalah virus hepatitis A dan dikenal sebagai penyakit Hepatitis A.

Hati (liver) merupakan organ yang terletak di bawah tulang rusak sebelah kanan perut manusia. Memiliki peran yang sangat penting, berfungsi untuk mencerna makanan dan membersihkan racun dari tubuh. Fungsi hati akan terganggu ketika mengalami peradangan.

Gejala Hepatitis A

  1. Demam
  2. Kelelahan
  3. Nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut, khususnya di area hati
  4. Mual
  5. Muntah
  6. Tidak nafsu makan
  7. Tinja berwarna pucat
  8. Air seni berwarna coklat seperti teh
  9. Nyeri sendi
  10. Kulit dan mata menjadi kuning (ikterus)
  11. Gatal

Tidak semua penderita mengalami gejala di atas. Gejala lebih sering muncul pada orang dewasa dibandingkan anak-anak. Bahkan pada anak usia di bawah 6 tahun, hanya 10% yang dilaporkan mengalami gejala ikterus. Ikterus merupakan kondisi ketika kadar bilirubin di dalam darah meningkat akibat gangguan fungsi hati, ditandai dengan mata dan kulit penderita menjadi kuning.

Komplikasi Hepatitis A

Pada dasarnya, penyakit hepatitis A dapat sembuh dan tidak menyebabkan kerusakan hati yang menetap. Namun, pada kasus yang jarang terjadi, hepatitis A dapat menyebabkan fungsi hati hilang secara mendadak disebut dengan gagal hati akut, terutama pada pasien dengan usia yang lebih tua (di atas 50 tahun) atau penderita penyakit hati kronis, seperti hepatitis B atau C.

Gagal hati Hepatitis A

Membutuhkan perawatan dan pemantauan ketat di rumah sakit. Beberapa penderita mungkin memerlukan transplantasi hati. Sekitar 10-15% penderita yang telah sembuh dapat mengalami kekambuhan penyakit sampai 6 bulan setelah penyakitnya sembuh, namun ini tidak menunjukkan adanya perkembangan hepatitis kronis.

Penyebab Hepatitis A

Virus hepatitis A termasuk dalam famili picornaviridaebersifat stabil pada suhu panas, tahan asam dan tahan terhadap cairan empedu. Virus hepatitis A diketahui dapat bertahan selama lebih dari 1 bulan di suhu ruang.

Cara Penularan Hepatitis A

Seseorang dapat terinfeksi virus hepatitis A ketika mengonsumsi makanan atau minuman yang telah tercemar oleh tinja penderita hepatitis A (fecal-oral). Penyakit ini tidak menular melalui bersin atau batuk.

Beberapa cara spesifik penularan hepatitis A, antara lain:

  1. Mengonsumsi makanan yang ditangani oleh penderita hepatitis A yang tidak mencuci tangan setelah menggunakan kamar kecil
  2. Minum air yang terkontaminasi
  3. Mengonsumsi kerang mentah dari air yang tercemar limbah
  4. Kontak erat dengan penderita yang terinfeksi, meskipun penderita tidak menunjukkan gejala sakit
  5. Melakukan hubungan badan dengan penderita

Faktor Risiko Hepatitis A

Seseorang memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terinfeksi virus hepatitis A, jika :

  1. Bepergian ke daerah atau negara endemis hepatitis A
  2. Tinggal di kondisi lingkungan yang buruk, seperti tidak tersedianya air bersih
  3. Tidak menerapkan kebersihan diri
  4. Bekerja di tempat penitipan anak
  5. Tinggal dengan penderita hepatitis A
  6. Berhubungan badan dengan penderita
  7. Melakukan hubungan badan sesama jenis, khususnya pria
  8. Menderita HIV
  9. Menderita gangguan pembekuan darah, seperti hemofilia
  10. Menggunakan obat-obat terlarang

Diagnosis Hepatitis A

Selain melalui pemeriksaan fisik dan gejala yang dirasakan, dokter juga akan melakukan pemeriksaan laboratorium. Diagnosis spesifik dibuat dengan melakukan pemeriksaan Immunoglobulin (IgM) anti HAV, yaitu pemeriksaan antibodi terhadap virus hepatitis A.

Selain itu, peradangan pada hati menyebabkan fungsi hati terganggu, ditandai dengan peningkatan nilai enzim hati, melalui pemeriksaan SGOT dan SGPT.

Pencegahan  Hepatitis A

1. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan

Rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, sebelum makan, sebelum mengolah dan menghidangkan makanan, setelah dari toilet, setelah mengganti popok bayi dan sebelum menyusui bayi.

Penyakit ini ditularkan oleh tinja yang mengandung virus hepatitis A, oleh karena itu juga perlu diperhatikan dalam membuang tinja. Pastikan Mommy membuang tinja di jamban.

2. Mengelola makanan dengan benar

  1. Hindari mengonsumsi makanan mentah. Memanaskan makanan dan minuman sampai suhu 85°C minimal selama 1 menit dapat membunuh virus hepatitis A.
  2. Hindari membeli makanan di pinggir jalan
  3. Mencuci peralatan masak dan makan
  4. Menjaga kebersihan dapur
  5. Memisahkan antara bahan makanan matang dan mentah
  6. Menggunakan air bersih baik untuk minum dan kebutuhan sehari-hari

3. Melakukan Imunisasi

Imunisasi hepatitis A terdiri dari 2 jenis, yaitu:

  • Imunisasi pasif

Menggunakan immunoglobulin, dapat memberikan efek perlindungan dengan cepat, namun hanya bersifat sementara. Imunisasi pasif diberikan pada seseorang yang kontak dengan penderita atau pencegahan sebelum kontak dengan penderita hepatitis A.

  • Imunisasi aktif

Imunisasi aktif dengan pemberian vaksin hepatitis A dapat memberikan perlindungan yang efektif terhadap penyakit ini. Vaksin dibuat dari virus yang telah diinaktivasi (inactivated vaccine). Vaksin dapat diberikan mulai usia 24 bulan sebanyak 2 dosis dengan selang pemberian 6-12 bulan.

Vaksin hepatitis A mulai memberikan perlindungan setelah 4 minggu sejak Mommy menerima suntikan pertama. Dosis kedua diperlukan untuk memberikan perlindungan jangka panjang.

Pengobatan Hepatitis A

Tidak ada pengobatan spesifik untuk mengobati penyakit hepatitis A. Hepatitis A ringan tidak membutuhkan pengobatan. Kebanyakan penderita yang terinfeksi dapat sembuh sepenuhnya dalam 6 bulan tanpa kerusakan hati permanen.

Tujuan pengobatan hepatitis A adalah mengontrol gejala yang menyebabkan penderita merasa tidak nyaman. Penggunaan antivirus atau antibiotik tidak direkomendasikan.

Untuk mengurangi gejala, penderita harus melakukan:

  1. Bed rest atau istirahat total, kebanyakan penderita hepatitis A akan merasakan lemas dan tidak berenergi
  2. Makan dengan porsi kecil tapi sering
  3. Pilihlah makanan yang berkalori tinggi, seperti jus buah atau susu, agar dapat memenuhi kebutuhan tubuh
  4. Hindari makanan dan minuman yang dapat memperparah mual, misalnya makanan asam, berlemak dan pedas
  5. Minum air dalam jumlah cukup untuk menghindari dehidrasi, khususnya bagi penderita dengan keluhan muntah
  6. Hindari minuman beralkohol
  7. Hindari penggunaan obat-obatan

Sebelum mengonsumsi obat-obatan, pastikan Mommy telah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Peradangan pada hati menyebabkan hati kesulitan untuk memproses obat-obatan dan minuman beralkohol, sehingga berisiko menyebabkan gangguan dan kerusakan hati.

Selain mengobati gejala, penderita hepatitis A juga harus mencegah penularan penyakit ke orang lain, dengan cara:

  1. Hindari berhubungan badan
  2. Cuci tangan setidaknya selama 20 detik menggunakan sabun dan air mengalir, terutama setelah dari toilet dan mengganti popok anak
  3. Jangan menyiapkan makanan untuk orang lain

Campak | Pengertian, Gejala, Penyebab, Vaksin dan Pengobatan



Campak dikenal juga dengan measles, morbili atau rubeola merupakan penyakit infeksi yang sering terjadi pada anak-anak. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini cukup berbahaya karena dapat menyebabkan komplikasi serius dan kematian, saat ini campak dapat dicegah dengan pemberian vaksin.

Ciri-Ciri Gejala Campak

Tanda dan gejala campak akan muncul sekitar 7 sampai 14 hari setelah penderita terpapar oleh virus. Tanda dan gejala yang dapat dialami, antara lain:

  • Demam
  • Batuk kering
  • Hidung berair
  • Nyeri tenggorokan
  • Mata merah dan berair (konjungtivitis)
  • Koplik’s spots (Bercak putih yang terdapat di dalam mulut dapat terlihat 2 sampai 3 hari setelah gejala muncul)
  • Ruam pada kulit (Biasanya mulai terlihat dalam 3 sampai 5 hari setelah gejala muncul. Dimulai dari bintik merah datar yang terlihat di sekitar wajah dan menyebar ke leher, badan, lengan, dan kaki. Ketika ruam muncul biasanya demam akan semakin parah)

Komplikasi Campak

Komplikasi serius dapat terjadi pada semua usia. Namun, beberapa kelompok yang lebih sering mengalami komplikasi campak, antara lain:

  • Anak usia di bawah 5 tahun
  • Orang dewasa di atas 20 tahun
  • Wanita hamil
  • Orang dengan gangguan sistem imun, seperti penderita leukemia atau HIV

Komplikasi Umum Campak

  • Infeksi telinga

Terjadi pada 1 dari 10 anak yang mengalami campak dan dapat menyebabkan kehilangan pendengaran permanen.

  • Diare

Komplikasi Serius Campak

  • Pneumonia

Komplikasi pneumonia atau infeksi paru dilaporkan terjadi pada 1 dari 20 anak yang mengalami campak. Pneumonia juga merupakan penyebab umum terjadinya kematian pada anak.

  • Ensefalitis

Terjadi pembengkakan pada otak. Meski jarang terjadi, komplikasi ini dapat menyebabkan kejang dan menyebabkan anak menjadi tuli atau cacat intelektual.

  • Gangguan pada kehamilan

Pada Mommy yang sedang hamil dan belum mendapatkan vaksin, campak dapat menyebabkan kelahiran prematur, bayi dengan berat badan rendah dan kematian.

Penyebab Campak

Campak adalah penyakit yang sangat menular, disebabkan oleh virus yang memperbanyak diri di hidung dan tenggorokan anak atau orang dewasa yang terinfeksi.

Cara Penularan Campak

Campak menular melalui percikan air liur yang terhirup ketika penderita campak batuk, bersin atau berbicara. Percikan air liur yang mengandung virus campak dapat jatuh pada permukaan benda. Virus dapat tetap aktif dan bertahan di udara dan permukaan benda selama 2 jam. Mommy dapat tertular virus jika menyentuh permukaan yang telah terkontaminasi virus lalu menyentuh hidung, mulut atau mata Mommy dengan tangan tersebut.

Penderita campak dapat menyebarkan campak ke orang lain dimulai 4 hari sebelum dan setelah ruam muncul. Hampir 90% orang yang berinteraksi erat dengan penderita akan tertular jika belum memiliki kekebalan tubuh terhadap campak.

Faktor Risiko Campak

Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko Mommy terinfeksi virus campak, yaitu:

  • Belum mendapatkan vaksin campak
  • Bepergian ke negara endemik campak
  • Mengalami defisiensi vitamin A

Diagnosis Campak

Dokter akan mendiagnosis penyakit campak berdasarkan tanda dan gejala yang dialami, seperti karakteristik ruam atau bercak merah pada kulit, koplik’s spot atau bercak putih di dalam dinding mulut.

Pencegahan Campak

Penyakit campak sangat mudah menular dan berbahaya karena dapat menyebabkan beragam komplikasi. Untungnya, penyakit ini bisa dicegah dengan pemberian vaksin campak.

Vaksin Campak

Di Indonesia, vaksin MR (Measles and Rubella) atau yang dikenal dengan vaksin Campak-Rubella sudah menjadi vaksin yang wajib diberikan saat masih bayi. Vaksin MR merupakan  vaksin hidup yang dilemahkan (live attenuated) untuk mencegah dua penyakit, yaitu campak dan rubella. Tidak seperti campak, penyakit rubella biasanya menyebabkan penyakit ringan pada anak-anak.

Namun, jika terjadi pada Mommy yang sedang hamil pada trimester pertama atau awal kehamilan dapat menyebabkan keguguran atau kecacatan pada bayi atau yang dikenal dengan Sindroma Rubella Kongenital. Sindroma tersebut menyebabkan kelainan pada jantung, mata, gangguan pendengaran dan keterlambatan perkembangan.

  • Vaksin MR untuk Anak-anak

Dahulu vaksin MR dikenal dengan vaksin MMR untuk mencegah campak, gondongan dan rubella. Namun, saat ini pemerintah telah mengganti vaksin MMR menjadi vaksin MR untuk mencegah campak dan rubella. Vaksin MR diberikan pada usia 9 bulan, 18 bulan dan kelas 1 SD/ sederajat.

  • Vaksin MR untuk Dewasa

Vaksin MR juga dapat diberikan pada orang dewasa yang belum mendapatkan vaksin campak saat bayi. Dibutuhkan 1 sampai 2 dosis vaksin MR untuk orang dewasa. Konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu, sebelum Mommy mendapatkan vaksin MR.

Kontraindikasi Pemberian Vaksin

Vaksin MR tidak direkomendasikan diberikan pada:

  • Orang yang sedang menggunakan terapi kortikosteroid atau obat penekan sistem imun dan radioterapi
  • Wanita hamil
  • Leukemia, anemia berat dan kelainan darah lainnya
  • Kelainan fungsi ginjal berat
  • Gangguan jantung (Decompensatio cordis)
  • Mendapatkan injeksi gamma globulin atau transfusi darah
  • Riwayat alergi terhadap komponen vaksin, seperti neomycin.

Pengobatan Campak

Tidak ada pengobatan khusus untuk penyakit campak. Dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan untuk meringankan gejala, yaitu:

  • Obat demam

Obat penurun demam atau antipiretik, seperti paracetamol atau ibuprofen dapat diberikan untuk membantu mengurangi demam. Namun, hindari penggunaan aspirin pada anak, karena berisiko menyebabkan Reye’s syndrome. Meski jarang terjadi, namun kondisi tersebut berisiko mengancam jiwa.

  • Antibiotik

Antibiotik diberikan bukan untuk mengobati campak. Namun, pemberian antibiotik hanya akan diberikan jika dokter mencurigai terjadinya infeksi tambahan yang disebabkan oleh bakteri, seperti pneumonia atau infeksi pada telinga.

  • Vitamin A

Anak-anak yang kekurangan vitamin A berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi campak. Oleh karena itu, biasanya dokter juga akan memberikan tambahan vitamin A untuk mengurangi keparahan penyakit campak.


TBC | Pengertian, Gejala, Penyebab, Vaksin dan Pengobatan


TBC (Tuberkulosis) yang juga dikenal dengan TB adalah penyakit paru-paru akibat kuman Mycobacterium tuberculosis. TBC akan menimbulkan gejala berupa batuk yang berlangsung lama (lebih dari 3 minggu), biasanya berdahak, dan terkadang mengeluarkan darah.


Kuman TBC tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga bisa menyerang tulang, usus, atau kelenjar. Penyakit ini ditularkan dari percikan ludah yang keluar penderita TBC, ketika berbicara, batuk, atau bersin. Penyakit ini lebih rentan terkena pada seseorang yang kekebalan tubuhnya rendah, misalnya penderita HIV.

Gejala Tuberkulosis


Selain menimbulkan gejala berupa batuk yang berlangsung lama, penderita TBC juga akan merasakan beberapa gejala lain, seperti:

DemamLemasBerat badan turunTidak nafsu makanNyeri dadaBerkeringat di malam hari

Pengobatan Tuberkulosis


TBC dapat dideteksi melalui pemeriksaan dahak. Beberapa tes lain yang dapat dilakukan untuk mendeteksi penyakit menular ini adalah foto Rontgen dada, tes darah, atau tes kulit (Mantoux).


TBC dapat disembuhkan jika penderitanya patuh mengonsumsi obat sesuai dengan resep dokter. Untuk mengatasi penyakit ini, penderita perlu minum beberapa jenis obat untuk waktu yang cukup lama (minimal 6 bulan). Obat itu umumnya berupa:

Isoniazid

Rifampicin

Pyrazinamide

Ethambutol


Pengobatan penyakit TBC membutuhkan waktu yang cukup lama dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, memiliki asuransi kesehatan bisa menjadi pertimbangan, sehingga Anda tidak perlu dipusingkan dengan tanggungan biaya saat berobat nanti.


Pencegahan Tuberkulosis

TBC dapat dicegah dengan pemberian vaksin BCG yang disarankan dilakukan sebelum bayi berusia 2 bulan. Selain itu, pencegahan juga dapat dilakukan dengan cara:

Mengenakan masker saat berada di tempat ramai.Tutupi mulut saat bersin, batuk, dan tertawa.Tidak membuang dahak atau meludah sembarangan.


HIV | Pengertian, Gejala, Penyebab, Vaksin dan Pengobatan



HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4. Jika makin banyak sel CD4 yang hancur, daya tahan tubuh akan makin melemah sehingga rentan diserang berbagai penyakit.


HIV yang tidak segera ditangani akan berkembang menjadi kondisi serius yang disebut AIDS (acquired immunodeficiency syndrome). AIDS adalah stadium akhir dari infeksi HIV. Pada tahap ini, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah hilang sepenuhnya.


Penularan HIV terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh penderita, seperti darah, sperma, cairan vagina, cairan anus, serta ASI. Perlu diketahui, HIV tidak menular melalui udara, air, keringat, air mata, air liur, gigitan nyamuk, atau sentuhan fisik.


HIV adalah penyakit seumur hidup. Dengan kata lain, virus HIV akan menetap di dalam tubuh penderita seumur hidupnya. Meski belum ada metode pengobatan untuk mengatasi HIV, tetapi ada obat yang bisa memperlambat perkembangan penyakit ini dan dapat meningkatkan harapan hidup penderita.


HIV dan AIDS di Indonesia

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2019, terdapat lebih dari 50.000 kasus infeksi HIV di Indonesia. Dari jumlah tersebut, kasus HIV paling sering terjadi pada heteroseksual, diikuti lelaki seks lelaki (LSL) atau homoseksual, pengguna NAPZA suntik (penasun), dan pekerja seks.


Sementara itu, jumlah penderita AIDS di Indonesia cenderung meningkat. Di tahun 2019, tercatat ada lebih dari 7.000 penderita AIDS dengan angka kematian mencapai lebih dari 600 orang.


Akan tetapi, dari tahun 2005 hingga 2019, angka kematian akibat AIDS di Indonesia terus mengalami penurunan. Hal ini menandakan pengobatan di Indonesia berhasil menurunkan angka kematian akibat AIDS.


Gejala HIV dan AIDS

Kebanyakan penderita mengalami flu ringan pada 2–6 minggu setelah terinfeksi HIV. Flu bisa disertai dengan gejala lain dan dapat bertahan selama 1–2 minggu. Setelah flu membaik, gejala lain mungkin tidak akan terlihat selama bertahun-tahun meski virus HIV terus merusak kekebalan tubuh penderitanya, sampai HIV berkembang ke stadium lanjut menjadi AIDS.


Pada kebanyakan kasus, seseorang baru mengetahui bahwa dirinya terserang HIV setelah memeriksakan diri ke dokter akibat terkena penyakit parah yang disebabkan oleh melemahnya daya tahan tubuh. Penyakit parah yang dimaksud antara lain diare kronis, pneumonia, atau toksoplasmosis otak.


Penyebab dan Faktor Risiko HIV dan AIDS

Penyakit HIV disebabkan oleh human immunodeficiency virus atau HIV, sesuai dengan nama penyakitnya. Bila tidak diobati, HIV dapat makin memburuk dan berkembang menjadi AIDS.


Penularan HIV dapat terjadi melalui hubungan seks vaginal atau anal, penggunaan jarum suntik, dan transfusi darah. Meskipun jarang, HIV juga dapat menular dari ibu ke anak selama masa kehamilan, melahirkan, dan menyusui.


Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko penularan adalah sebagai berikut:


Berhubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan dan tanpa menggunakan pengamanMenggunakan jarum suntik bersama-samaMelakukan pekerjaan yang melibatkan kontak dengan cairan tubuh manusia tanpa menggunakan alat pengaman diri yang cukup


Lakukan konsultasi ke dokter bila Anda menduga telah terpapar HIV melalui cara-cara di atas, terutama jika mengalami gejala flu dalam kurun waktu 2–6 minggu setelahnya.


Pengobatan HIV dan AIDS


Penderita yang telah terdiagnosis HIV harus segera mendapatkan pengobatan berupa terapi antiretroviral (ARV). ARV bekerja mencegah virus HIV bertambah banyak sehingga tidak menyerang sistem kekebalan tubuh.


Pencegahan HIV dan AIDS

Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghindari dan meminimalkan penularan HIV:

  • Tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah Tidak berganti-ganti pasangan seksualMenggunakan kondom saat berhubungan seksual.
  • Menghindari penggunaan narkoba, terutama jenis suntik.
  • Mendapatkan informasi yang benar terkait HIV, cara penularan, pencegahan, dan pengobatannya, terutama bagi anak remaja


KUIS | Gejala, Penyebab, Penularan, dan Pengobatan Serta Tindakan/Penanangan.

  • Sebutkan Macam-macam Bencana Alam di Indonesia..?
  • Berdasarkan Bencana Alam Tersebut bagaimana Penyebab, serta Tindakan ataupun Penangannya baik pada Korban banyak.
  • Terakhir..! Berdasarkan Gejala, Penyebaran dan Penularan Penyakit-Penyakit DiATAS Bagaimana cara Pencegahan dan Tindakan yang Harus dilakukan.?
  • Sebutkan langkah-langkah Mitegasi bencana Gempa Bumi dari Sebelum, Saat Setelah Kejadian.